APAKAH PEMBUNUHAN TERKENDALI SECARA STATISTIK?

Juli 12th, 2016

Merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, Tugas Pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah a) memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, b) menegakkan hukum, dan c) memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Hal ini dituangkan dalam Pasal 13 undang-undang tersebut. Anggaplah sekarang Anda mengepalai suatu Polsek (Kepolisian Sektor); dengan kata lain Anda seorang Kapolsek. Tugas Anda adalah memelihara keamanan dan ketertiban di wilayah hukum Anda. Apa jadinya apabila di wilayah hukum Anda tersebut misalnya, dalam setiap minggunya ada terjadi pembunuhan manusia? Apakah terhadap situasi ini, bisa dikatakan bahwa tingkat kriminalitas terkendali secara statistik (in statistical control)? Apakah untuk menjawab ini kita boleh menggunakan diagram kendali (control charts) sebagaimana biasa dilakukan ketika kita menerapkan Statistical Quality Control untuk memperbaiki kualitas? Dalam bukunya yang berjudul “Introduction to Statistical Quality Control” Edisi Keempat, Douglas C. Montgomery memberikan suatu soal latihan yang menggunakan data kasus pembunuhan di Waco, Texas, di tahun 1989. Pada tahun tersebut terjadi 29 buah pembunuhan dan kasus pembunuhan di Waco ini diteliti oleh Kittlitz (1999). Soal latihan tersebut adalah soal nomor 6-62, yaitu soal latihan Bab 6 yang berjudul CONTROL CHARTS FOR ATTRIBUTES.

 

Setiap tahun tanpa terkecuali sampai dengan tahun ini, saya sebagai dosen Statistical Quality Control dihujani pertanyaan atau keluhan dari mahasiswa-mahasiswa bimbingan Tugas Akhir. Mereka mempertanyakan, “Pak, memangnya SQC itu hanya boleh dipakai dalam industri manufaktur?” Ternyata dosen pembimbing mereka melarang penggunaan SQC dengan alasan yang sangat sederhana, “SQC itu hanya dapat diterapkan dalam industri manufaktur” [Dosen pembimbingmu ngerti SQC ndak Dik?]

 

Statistical Quality Control (SQC) dapat digunakan dalam sektor jasa. Bukan masalah apabila diterapkan di sektor manufaktur atau di sektor jasa. Yang penting adalah menerapkannya dengan benar dan datanya tersedia cukup! Siapa yang berpendapat demikian? Bukan saya sendiri. Yang berpendapat demikian adalah seorang pakar SQC tingkat dunia, Douglas C. Montgomery. Mari kita kupas pendapat-pendapatnya, saya kutip kata demi kata dari buku karangannya “Introduction to Statistical Quality Control” Edisi Keempat, Penerbit John Wiley&Sons, Inc. (2001). Di bab 1 buku tersebut, halaman 1, sebagai pendahuluan ia menuliskan: “This book is about the use of statistical methods and other problem-solving techniques to improve the quality of the products used by our society. These products consist of manufactured goods such as automobiles, computers, and clothing, as well as services such as the generation and distribution of electrical energy, public transportation, banking, and health care. Quality improvement methods can be applied to any area within a company or organization, including manufacturing, process development, engineering design, finance and accounting, marketing, and field service of products.”

 

Masih dalam buku yang sama, Montgomery di subbab 6-1 halaman 284 mengatakan, “Attributes charts are generally not as informative as variables charts because there is typically more information in a numerical measurement than in merely classifying a unit as conforming or nonconforming. However, attribute charts do have important applications. They are particularly useful in service industries and in nonmanufacturing quality-improvement efforts because so many of the quality characteristics found in these environments are not easily measured on a numerical scale.” Selain itu, pada subbab 6-2.3 yang berjudul Nonmanufacturing Applications, Montgomery mengatakan, “The control chart for fraction nonconforming is widely used in nonmanufacturing applications of statistical process control. In the nonmanufacturing environment, many quality characteristics can be observed on a conforming or nonconforming basis. Examples would include the number of employee paychecks that are in error or distributed late during a pay period, the number of check requests that are not paid within the standard accounting cycle, and the number of deliveries made by a supplier that are not on time.”

 

Apakah hanya Montgomery yang berpendapat demikian? Seorang pakar SQC lain, Dale H. Besterfield, dalam bukunya yang berjudul “Quality Control” Edisi kedelapan, Penerbit Pearson Education, Inc. (2009), di halaman 316 mendefinisikan istilah nonconforming unit sebagai berikut, “The term nonconforming unit is used to describe a unit of product or service containing at least one nonconformity. Defective is analogous to defect and is appropriate for use when a unit of product or service is evaluated in terms of usage rather than conformance to specifications.” Dalam banyak contoh soal, Besterfield menggambarkan penggunaan SQC dalam sektor jasa. Misalnya, di Contoh Soal 8-1 (halaman 318), ia mencontohkan menghitung proporsi nonconforming shipments. Di Contoh 8-2 (halaman 320) kasus yang disajikan adalah kesalahan pengisian dokumen klaim asuransi. Di halaman 346 buku tersebut, Besterfield mencontohkan penerapan diagram kendali mengenai kesalahan (error) dalam waybills suatu perusahaan freight udara. Pada soal-soal latihan di buku tersebut cukup banyak contoh kasus penerapan diagram kendali di sektor jasa.

 

Jadi, tunggu apa lagi? Jangan ragu menerapkan SQC di sektor jasa! Terapkanlah dengan benar!

 

Bacalah juga tulisan-tulisan menarik saya seputar statistika dan hukum, pada tautan-tautan berikut:

  1. Ketika Ilmu Hukum Seiring Statistika
  2. Statistik Kriminal
  3. Statistika Penyelundupan

 

Tagging: , , ,

Most visitors also read :



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *