RANCANGAN PENELITIAN KUANTITATIF

April 20th, 2019

Salah satu penentu keberhasilan suatu penelitian adalah rancangan penelitian, khususnya bagi penelitian kuantitatif. Rancangan penelitian ini merupakan pedoman yang harus ditaati peneliti agar penelitian terselenggara secara terarah dan sistematis. Apa saja yang perlu dijabarkan suatu rancangan penelitian kuantitatif? Pada dasarnya tidak ada keseragaman mutlak mengenai ini, tetapi pada umumnya, perlu dijabarkan hal-hal berikut: 1) Latar belakang masalah, 2) Perumusan masalah, 3) Tujuan penelitian, 4) Manfaat penelitian, 5) Tinjauan pustaka, 6) Perumusan hipotesis teoretis, dan 7) Metode penelitian

 

LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam bagian ini peneliti menguraikan apa yang menjadi motif peneliti untuk melakukan penelitian tersebut. Mengutip Suriasumantri (2005), “pada hakikatnya suatu masalah tidak pernah berdiri sendiri dan terisolasi dari faktor-faktor lain; selalu terdapat konstelasi yang merupakan latar belakang dari suatu masalah tertentu.” Secara singkat dapat dikatakan bahwa selalu ada alasan atau hal-hal yang mendahului (contoh: fenomena empiris yang diamati) sehingga muncul pertanyaan penelitian, dan alasan atau hal-hal yang mendahului inilah yang harus diterangkan dalam latar belakang masalah. Apa yang diuraikan dalam latar belakang masalah ini merupakan inspirasi atau “sumber” dari mana pertanyaan penelitian muncul. Untuk dapat menemukan masalah penelitian, seseorang dapat memperolehnya dari hasil pengamatan, hasil-hasil penelitian sebelumnya, artikel-artikel ilmiah, dan diskusi-diskusi ilmiah. Beberapa hal penting terkait dengan latar belakang ini adalah tingkat kepentingan (urgency), aktualitas dan relevansi masalah penelitian. Latar belakang masalah yang baik dapat meyakinkan bahwa yang diteliti tersebut memang penting untuk diteliti, memberikan manfaat atau penyelesaian bagi masalah yang dihadapi. Dalam hal aktualitas dan relevansi, peneliti dapat merujuk pada kepustakaan yang pernah dipublikasi atau dapat berkonsultasi dengan ilmuwan di bidang terkait, seseorang yang dipandang telah memiliki otorita wibawa akademik dalam disiplin ilmunya (Atmadilaga, 1994). Dengan dua cara ini peneliti dapat mengetahui bahwa masalah yang (akan) diajukannya bukan hal yang “sudah basi”, dalam arti sudah pernah diteliti oleh peneliti sebelumnya. Dengan dua cara tersebut peneliti dapat mengetahui perkembangan terkini disiplin ilmu yang terkait dengan masalah penelitian tersebut.

 

PERUMUSAN MASALAH

Menurut Suriasumantri (2005) perumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin kita carikan jawabannya. Dari berbagai masalah yang sempat dibahas di latar belakang masalah, peneliti harus membatasi penelitiannya pada hal-hal yang akan dijawab dalam penelitiannya. Tidak semua masalah yang ditampilkan dalam latar belakang masalah harus dijawab dalam satu penelitian. Peneliti harus memfokuskan penelitiannya pada apa yang dinyatakan dalam perumusan masalah. Apa ciri perumusan masalah yang baik? Untuk menjawab ini dapat kita perhatikan beberapa pedoman. Menurut Suriasumantri (2005), suatu masalah yang sudah dapat diidentifikasikan dan dibatasi, yang tecermin dalam pernyataan yang bersifat jelas dan spesifik, di mana untuk menemukan jawabannya kita dapat mengembangkan kerangka pemikiran yang berupa kajian teoretis berdasarkan pengetahuan ilmiah yang relevan, serta memungkinkan kita untuk melakukan pengujian secara empiris terhadap kesimpulan analisis teoretis, maka secara konseptual masalah tersebut sudah berhasil dirumuskan.”

Selanjutnya, Kriyantono (2014) mengemukakan bahwa perumusan masalah yang baik harus dapat menjelaskan beberapa hal penting seperti metode penelitiannya, objek penelitiannya, hubungan antarvariabel (untuk explanatory research), dan tujuan penelitiannya.

Kerlinger menyatakan tiga syarat yang harus dipenuhi dalam perumusan masalah yang baik, yaitu: 1) menyangkut hubungan antara dua atau lebih variabel, 2) dinyatakan dalam bentuk kalimat tanya yang jelas dan tidak ambigu (tidak memiliki lebih dari satu pengertian/maksud), 3) dapat diuji secara empiris.

Bryman (2008) menyatakan bahwa pertanyaan penelitian untuk suatu disertasi atau proyek memiliki ciri-ciri berikut: 1) harus jelas, mudah dipahami, 2) harus dapat diteliti (pertanyaan penelitian jangan memuat istilah yang terlalu abstrak sampai-sampai istilah itu tidak dapat dikonversikan menjadi istilah yang dapat diteliti), 3) harus terkait dengan suatu teori atau penelitian yang telah mapan, 4) pertanyaan-pertanyaan penelitian berhubungan satu dengan lainnya, 5) harus memungkinkan kesempatan menghasilkan kontribusi orisinal pada topik tersebut, 6) cakupannya tidak boleh terlalu luas atau terlalu sempit.

 

Selanjutnya, Bajari (2015) mengatakan bahwa ciri-ciri rumusan masalah yang baik adalah 1) dinyatakan dalam bentuk sederhana. Kalimat-kalimat yang disusun dalam penelitian harus muda dipahami dan langsung menunjuk pada pokok penelitian,  2) mengidentifikasi pengubah-pengubah, 3) menunjukkan hubungan antarpengubah, dan 4) mengidentifikasikan target populasi yang dituju.

 

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian adalah menjawab pertanyaan yang diajukan pada bagian perumusan masalah. Berbeda dengan perumusan masalah yang dituliskan dalam kalimat tanya, tujuan penelitian dituliskan dalam bentuk kalimat berita. Jadi, apabila dalam perumusan masalah dituliskan “Apakah terdapat hubungan antara terpaan media (media exposure) dan partisipasi politik masyarakat?” maka tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara terpaan media dengan partisipasi politik masyarakat. Jika perumusan masalahnya “Apakah sosok seorang gadis belia lebih efektif dalam mengiklankan sabun mandi daripada sosok seorang ibu rumah tangga?” maka tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui apakah sosok seorang gadis belia lebih efektif dalam mengiklankan sabun mandi daripada sosok seorang ibu rumah tangga.

 

MANFAAT PENELITIAN

Pada bagian ini peneliti menyampaikan manfaat apa yang akan diraih dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada perumusan masalah. Ada beberapa macam manfaat yang mungkin dicapai, seperti manfaat teoretis, manfaat praktis, manfaat sosial, dan manfaat metodologis (Kriyantono, 2014). Mengingat tidak ada kebenaran abadi dalam hal kebenaran ilmiah, sangat mungkin hasil suatu penelitian membantah teori sebelumnya. Mungkin juga dengan dilaksanakannya suatu penelitian muncul teori baru yang melengkapi koleksi teori sebelumnya dalam disiplin ilmu terkait. Dalam hal ini penelitian memiliki manfaat teoretis. Sebagai contoh, dalam penelitian di bidang ilmu komunikasi, teori Personal Influences yang dikemukakan Katz&Lazarsfeld (1950) membantah teori sebelumnya, yaitu Teori Peluru-nya Schramm. Manfaat praktis diraih apabila dengan terjawabnya pertanyaan penelitian, terdapat peningkatan kualitas atau performansi suatu kegiatan atau upaya manusia untuk mencapai sasaran yang diinginkan. Misalnya, dengan mengetahui jenis lagu apa yang sebaiknya diperdengarkan di suatu stasiun radio pada jam-jam tertentu, stasiun radio tersebut dapat memperbanyak jumlah penggemar.

 

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bagian ini peneliti menguraikan apa saja yang “ia baca” atau “ia pelajari” dalam rangka mengerjakan penelitian tersebut dari awal hingga akhir penelitian. Tinjauan pustaka memiliki peran yang sangat penting dalam pelaksanaan penelitian. Tinjauan pustaka “menemani” perjalanan penelitian mulai dari tahap-tahap awal dalam menentukan pertanyaan penelitian sampai tahap-tahap akhir penelitian berupa analisis data sampai pada penarikan kesimpulan.

Bagaimana tinjauan pustaka berperan dalam perumusan masalah? Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, masalah penelitian tidak muncul tiba-tiba, namun dilatarbelakangi oleh berbagai alasan, misalnya dari hasil pengamatan terhadap fenomena yang terjadi. Dari apa yang diamati tersebut, dengan melakukan konseptualisasi, peneliti dapat menentukan apa sebenarnya yang sedang diamati tersebut. Dalam hal melakukan konseptualisasi tersebut, seringkali peneliti merujuk pada pustaka terkait untuk dapat secara tepat “menamai” hal-hal yang diamati tersebut. Sebagai contoh, seorang peneliti belakangan ini membaca berita-berita di surat kabar yang menyajikan penggusuran pedagang kaki lima oleh Satpol PP, pemeriksaan surat-surat dan kelengkapan berkendara oleh POLRI, penyelidikan terhadap dugaan terjadinya tindak pidana korupsi oleh kejaksaan, dan pengejaran terhadap pengedar narkoba oleh POLRI. Dengan merujuk pada pustaka terkait, peneliti tersebut mengenakan konsep penegakan hukum (law enforcement) terhadap peristiwa-peristiwa tersebut. Selanjutnya barangkali peneliti tersebut melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan apakah pemberitaan penegakan hukum di surat kabar menimbulkan citra yang positif penegakan hukum di kalangan masyarakat pembaca. Perhatikan bahwa pada contoh ini, peneliti “memberi nama” penegakan hukum bagi peristiwa-peristiwa tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa tinjauan pustaka berperan dalam perumusan masalah sebagai sumber didapatkannya konsep-konsep yang terkait dengan fenomena yang diamati sebagai alasan timbulnya pertanyaan penelitian.

Bagaimana peran tinjauan pustaka dalam merumuskan hipotesis? Dalam upaya menjawab pertanyaan penelitian, peneliti kuantitatif merujuk pada publikasi-publikasi ilmiah yang pernah diterbitkan yang terkait dengan masalah tersebut. Dari berbagai pustaka yang dibacanya tersebut, peneliti kuantitatif menemukan hasil-hasil (kesimpulan) peneliti-peneliti terdahulu yang berhubungan dengan pertanyaan penelitiannya. Dari semua yang dibacanya tersebut, kemudian ia secara deduktif memberikan jawaban sementara (hipotesis) terhadap pertanyaan yang diajukan.

Bagaimana peran tinjauan pustaka dalam menguji hipotesis? Dari literatur, peneliti kuantitatif mendapatkan metode statistik yang cocok untuk menguji hipotesis yang diajukan. Lebih lanjut, dari literatur tersebut peneliti mengetahui bagaimana cara menerapkan metode statistik yang dipilih tersebut. Dengan studi pustaka, peneliti mengetahui perkembangan-perkembangan metode statistik terkini yang barangkali lebih baik untuk diterapkan dalam rangka menguji hipotesis yang diajukan.

Bagaimana peran tinjauan pustaka dalam menarik kesimpulan? Teori-teori yang diperoleh dari studi literatur dapat membantu memberikan alasan atau pembenaran bagi penjelasan yang didasarkan pada hasil empiris.

 

PERUMUSAN HIPOTESIS TEORETIS

Hipotesis teoretis adalah suatu jenis hipotesis di mana peneliti menyatakan variabel-variabel dalam istilah-istilah yang abstrak, konseptual dan menyatakan hubungan di antara variabel-variabel secara teoretis. Lawan dari hipotesis teoretis adalah hipotesis empiris, yaitu suatu jenis hipotesis di mana peneliti menyatakan variabel-variabel dengan istilah-istilah empiris yang spesifik dan menyatakan hubungan di antara indikator-indikator yang terukur dalam istilah-istilah yang empiris dan teramati. Dengan kata lain, hipotesis teoretis merupakan dugaan adanya hubungan antara konsep-konsep sedangkan hipotesis empiris merupakan dugaan adanya hubungan antara indikator-indikator. Sebagai contoh, berdasarkan masalah yang diajukan dan kajian pustaka yang dilakukan, Nasrial (2019) pada penelitiannya yang berjudul Pengaruh Iklan TV Shopee Versi “Goyang Shopee 9.9 Super Shopping Dayterhadap Keputusan Pembelian Melalui Aplikasi Shopee ” (Survey pada Masyarakat di Kota Bandung) mengajukan hipotesis teoretis: Terdapat pengaruh iklan TV Shopee versi “Goyang Shopee 9.9 Super Shopping Day” terhadap keputusan pembelian melalui aplikasi Shopee. Perhatikan bahwa dalam hipotesis ini, iklan TV merupakan suatu konsep, demikian juga keputusan pembelian. Serupa dengan itu, Vatnilla(2019) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Komunikasi terhadap Kepuasan Pelanggan Transportasi Online Go-Jek (Studi Kuantitatif pada Mahasiswa/i Institut Teknologi Bandung) mengajukan hipotesis teoretis: Terdapat pengaruh komunikasi terhadap kepuasan pelanggan transportasi online Go-Jek. Perhatikan bahwa dalam hipotesis ini, komunikasi merupakan suatu konsep, demikian juga kepuasan pelanggan.

 

METODE PENELITIAN

Yang harus dituliskan pada bagian ini adalah a) jenis penelitian, b) operasionalisasi variabel, c) populasi dan sampel, d) teknik pengumpulan data, e) uji validitas dan reliabilitas, f) teknik analisis data.

ad. a: Jenis dan metode penelitian

Pada bagian ini diuraikan apakah penelitian tersebut bersifat deskriptif, eksplanatif, atau evaluatif. Penelitian deskriptif sifatnya hanya menggambarkan/memotret keadaan atau fenomena secara rinci mengenai objek penelitian terkait. Penelitian jenis ini tidak berupaya mencari penjelasan mengapa suatu hal terjadi atau apakah yang menjadi penyebab suatu hal atau membuktikan adanya hubungan di antara beberapa hal. Sebaliknya, penelitian eksplanatif berupaya menjelaskan mengapa suatu hal terjadi, apakah ada hubungan antarvariabel, apakah ada hubungan sebab-akibat (hubungan kausal) antara dua atau lebih variabel. Penelitian evaluatif berupaya mengkaji efektivitas suatu program atau kegiatan. Pada bagian ini dapat pula dikemukakan metode yang digunakan. Dalam penelitian komunikasi kuantitatif, ada beberapa metode yang dapat digunakan misalnya metode survei, eksperimen, analisis isi (content analysis), dan lain-lain. Dalam penelitian komunikasi  kualitatif tersedia metode kelompok diskusi terfokus (focus group discussion), wawancara mendalam (depth interview), observasi, studi kasus, etnografi, dan lain-lain.

ad. b: Operasionalisasi variabel

Neuman mendefinisikan operasionalisasi sebagai proses mengaitkan suatu definisi konseptual dengan sekumpulan teknik atau prosedur pengukuran tertentu. Pada bagian ini diuraikan bagaimana konsep-konsep yang dilibatkan dalam penelitian diuraikan menjadi indikator-indikator. Dalam hal ini tinjauan pustaka memainkan peran yang sangat penting.

ad. c: Populasi dan sampel

Pada bagian ini diuraikan apa yang menjadi populasi dan bagaimana teknis pengambilan sampel dilakukan. Pada teknik pengambilan sampel diuraikan ukuran sampel dan metode sampling yang digunakan. Pada penelitian kuantitatif tersedia banyak metode sampling, seperti simple random sampling, systematic sampling, stratified sampling, atau cluster sampling. Metode sampling lainnya (biasanya dalam penelitian kualitatif) misalnya haphazard sampling, quota sampling, purposive sampling, snowball sampling, deviant case sampling, sequential sampling, atau theoretical sampling.

ad. d: Teknik pengumpulan data

Pada bagian ini diuraikan bagaimana peneliti memperoleh data yang diinginkan, apakah menggunakan kuesioner, wawancara, observasi, dan lain-lain. Dalam sebuah penelitian, sangat dimungkinkan dilakukan lebih dari satu macam teknik. Jadi, mungkin saja teknik kuesioner dikombinasikan dengan wawancara atau yang lainnya.

ad. e: Uji validitas dan reliabilitas

Pada bagian ini diuraikan bagaimana peneliti melakukan pengujian terhadap aneka ragam kesahihan/validitas, misalnya construct validity, content validity, predictive validity, dan lain-lain. Dalam hal ini, validitas berkenaan dengan seberapa baik definisi konseptual dan operasional cocok satu sama lainnya. Sebelumnya telah diuraikan dalam operasionalisasi variabel bahwa konsep-konsep terkait penelitian pada akhirnya akan dijabarkan ke dalam indikator-indikator sampai pada butir-butir pertanyaan dalam kuesioner. Uji validitas dalam konteks ini mencakup sejauh mana butir-butir pertanyaan dalam kuesioner berhasil “mewakili” konsep yang diukur. Reliabilitas berkenaan dengan konsistensi pengukuran. Misalnya, suatu alat ukur memiliki reliabilitas yang baik apabila memberikan hasil yang sama apabila dilakukan berulang-ulang pada objek pengukuran yang sama. Ini dinamakan stability reliability. Jenis reliabilitas lainnya, misalnya representative reliability, dan equivalence reliability.

ad. f: Teknik analisis data

Penelitian kuantitatif pada umumnya menggunakan statistika dalam menganalisis data, mulai dari persiapan pengolahan data, penyajian statistika deskriptif, sampai pada statistika inferensial. Di bagian ini peneliti menguraikan rencananya dalam mempersiapkan pengolahan data sampai pada metode statistika yang akan digunakan. Misalnya, pada tahap persiapan peneliti “menyaring” data yang akan diolah dengan mengabaikan data pencilan (outlier). Ada kalanya peneliti perlu mentransformasikan dulu data yang diperoleh agar memenuhi asumsi yang diperlukan dalam suatu metode statistika. Di bagian ini juga diuraikan metode statistika yang akan digunakan, misalnya apakah peneliti akan menggunakan analisis regresi, analisis faktor, analisis diskriminan, atau metode-metode lainnya.



Most visitors also read :



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *