KARBON (CARBONIUM) – (4)

November 30th, 2016

Persenyawaan-persenyawaan Karbon

 

Karbonmonoksida

Karbonmonoksida, CO, merupakan gas yang tidak berwarna dan yang boleh dikatakan tidak dapat larut dalam air. Gas ini merupakan suatu oksida indiferen. Hal ini ternyata, karena gas ini tidak mengadakan reaksi membentuk asam, begitu pula dengan basa kuat tidak membentuk garam. Walau demikian, karbonmonoksida itu dapat diperoleh dari berbagai macam asam organik dengan cara menggunakan bahan-bahan penarik air. Walaupun demikian, karbonmonoksida itu tidak dapat dipandang sebagai anhidrida dari asam-asam tadi.

 

Karbonmonoksida terjadi:

  1. karena pembakaran karbon dengan oksigen yang tidak mencukupi atau karena CO2 yang mula-mula terjadi itu bersenyawa dengan karbon yang pijar, menjadi CO, berdasarkan reaksi: CO2 + C → 2 CO. Menurut cara ini, karbonmonoksida, atau disebut juga uap batu bara dapat terjadi dalam pendiang-pendiang (kachel), yang kurang dapat udara atau dalam pendiang-pendiang yang mula-mula dibakar panas-panas lalu jalan udara terlalu diperkecil. Di dalam industri besar dipergunakan juga reaksi ini untuk memperoleh yang disebut gas generator. Yang dipakai untuk ini adalah generator-generator, yaitu tanur-tanur, tempat batu bara itu ditimbun sampai beberapa meter tingginya. Dari bagian bawah dimasukkan aliran udara, yang terlebih dahulu membakar batu bara itu menjadi CO2, kemudian dengan lapisan-lapisan yangdi atasnya membentuk CO. Gas generator itu misalnya digunakan untuk memanaskan retor-retor dari pabrik-pabrik gas.
  2. dari uap air dan karbon yang pijar terjadi CO, menurut reaksi: C + H2O → CO + H2. Pada suhu antara 10000 dan 12000 terjadi dari kokas yang pijar dengan uap air yang sangat dipanaskan menurut persamaan di atas, suatu campuran gas, yang disebut gas air dan yang dibuat dalam pabrik-pabrik gas untuk dipergunakan sebagai bahan campuran dalam gas lampu biasa. Proses ini bersifat endoterm. Jika sudah sejurus lamanya uap air panas itu dialirkan melalui tanur berisikan kokas, maka turunlah suhunya dan pada akhirnya berlangsungnya reaksi itu terlalu lambat karena penurunan suhu di bawah 10000. Selama beberapa menit aliran uap air panas itu dihentikan dan dihembuskan udara ke dalam kokas tadi, sehingga kokas itu terbakar lagi dan dengan demikian menghasilkan gas generator. Karena pembakaran itu naiklah lagi suhu dalam tanur itu dan dengan demikian dapat dimulai lagi dengan pembuatan gas air.
  3. Dengan asam sulfat yang kuat dapat juga diambil air berbagai macam asam organik, misalnya dari asam formiat (HCOOH), menurut reaksi: HCOOH → H2O + CO. Karbonmonoksida merupakan suatu gas yang bersifat racun keras; jika dihirup pada waktu bernapas, maka gas ini bersenyawa dengan zat warna merah dari darah, yang disebut hemoglobin; oleh karena itu hemoglobin tidak dapat lagi membawa oksigen ke seluruh tubuh dengan baik, sedangkan pekerjaan ini hanyalah dilakukan oleh hemoglobin semata-mata. Dengan cara ini pengiriman oksigen ke seluruh tubuh itu makin lama makin berkurang, yang mengakibatkan orang menjadi pingsan dan pada akhirnya orang itu mati lemas. Karbonmonoksida tidak berbau dan oleh karena itu lebih berbahaya. Jika uap batu bara itu berbau, maka bau ini disebabkan oleh bau gas-gas yang lain. Karbonmonoksida mudah sekali terbakar, dan pada pembakaran itu mengeluarkan banyak kalor. Jika dicampur dengan udara menurut perbandingan tertentu, terjadi suatu campuran gas yang mudah meledak. Selanjutnya gas ini bersifat reduktor kuat dan karena itu dipergunakan untuk mereduksi bijih-bijih besi (besi oksida) menjadi besi, menurut reaksi: Fe2O3 + 3 CO → 3 CO2 + 2 Fe.

 

(bersambung)



Most visitors also read :



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *